Ceritera tentang riwayat Mak Kopi diawali dari datangnya seorang pemuda Islam putra Demak, ke Betawi dan menikah dengan seorang putri Betawi. Dari perkawinan tersebut lahir dua orang anak laki-laki yang diberi nama Samsudin dan Hadi. Kedua orang kakak beradik itu mempunyai kepribadian yang berbeda, Samsudin lebih mengikuti jejak ayahnya, yang setelah dewasa menjadi penghulu, sedangkan Hadi cenderung mengikuti jejak ibunya, yang kemudian menjadi seorang petani.
Hadi yang menjadi petani menikah dengan seorang wanita yang bernama Kopi, berasal dari Desa Ciracas yang kemudian lebih dikenal dengan nama Mak Kopi. Mak Kopi mempunyai nenek yang berdarah Cina, karena nenek ini adalah seorang putri Cina yang menikah dengan laki-laki Betawi. Dari perkawinan mereka lahirlah ibu Mak Kopi. Ketika hamil wanita ini hanya senang minum kopi saja, karena itu ketika anaknya lahir diberi nama si Kopi. Gadis inilah yang kemudian menikah dengan Hadi, dan ketika lahir si Kotong, anaknya, orang memanggilnya dengan Mak Kopi. Ketika Kotong berusia empat tahun, Hadi meninggal di rumahnya dan dimakamkan di Kampung Ceger, Desa Tanah Merdeka, tetapi keesokan harinya orang tidak lagi menemukan kuburan itu. Makam Hadi hilang lenyap, sementara itu sepeninggal Hadi, Mak Kopi kembali ke Ciracas dan menikah lagi dengan pria kampung ini. Menurut yang empunya ceritera, mak Kopi hidup seratus lima puluh tahun.
Mak Kopi adalah seorang pesilat yang mendapatkan kepandaiannya secara gaib. Murid-muridnya cukup banyak, dan Mak Kopi boleh dikatakan sebagai seorang guru yang mempunyai aliran silat sendiri yang berbeda dengan aliran-aliran silat yang lain. Dua orang muridnya yang cukup terkemuka adalah anak laki-lakinya, Kotong dan Cengkrong. Kemahiran bersilat Kotong hanya dipergunakan untuk kebutuhan sendiri saja, sedangkan Cengkrong mengamalkan kepandaiannya bersilat.
Pesilat-pesilat keturunan Hadi mempunyai gaya hidup yang berbeda dengan pesilat-pesilat keturunan Samsudin yang taat beragama. Pesilat inilah kemudian yang menjadi jagoan kampung dan beberapa orang darinya telah menyalahgunakan kepandaiannya dengan berbuat tidak baik, merampok, dan tindakan lain yang membuat masyarakat tidak senang serta tidak tenang. Golongan ini pula yang menjadi seniman yang banyak berkelana mendagangkan kemahiran seninya.
Ada tiga hal yang bisa dipetik dari cerita Mak Kopi tersebut di atas. Pertama ada hubungan antara Betawi dengan Cina yang digambarkan melalui asal-usul Mak Kopi. Kedua silat bukan hal yang asing bagi masya Betawi. Ketiga berdasarkan tingkah lakunya orang Betawi telah terbagi ke dalam sub-sub kultur. Keturunan Samsudin merupakan kelompok dari orang-orang yang taat beragama (Islam), sedangkan keturunan Hadi menjadi jagoan-jagoan silat, termasuk pula seniman-senimannya.
Pesilat-pesilat keturunan Hadi mempunyai gaya hidup yang berbeda dengan pesilat-pesilat keturunan Samsudin yang taat beragama. Pesilat inilah kemudian yang menjadi jagoan kampung dan beberapa orang darinya telah menyalahgunakan kepandaiannya dengan berbuat tidak baik, merampok, dan tindakan lain yang membuat masyarakat tidak senang serta tidak tenang. Golongan ini pula yang menjadi seniman yang banyak berkelana mendagangkan kemahiran seninya.
Ada tiga hal yang bisa dipetik dari cerita Mak Kopi tersebut di atas. Pertama ada hubungan antara Betawi dengan Cina yang digambarkan melalui asal-usul Mak Kopi. Kedua silat bukan hal yang asing bagi masya Betawi. Ketiga berdasarkan tingkah lakunya orang Betawi telah terbagi ke dalam sub-sub kultur. Keturunan Samsudin merupakan kelompok dari orang-orang yang taat beragama (Islam), sedangkan keturunan Hadi menjadi jagoan-jagoan silat, termasuk pula seniman-senimannya.
SUMBER : Sejarah Betawi


0 komentar:
Posting Komentar
Pengunjung yang bijak selalu meninggalkan jejak,
Gunakan Kata-kata yang sopan.